Melalui RGE, Sukanto Tanoto Melahirkan Para Pengusaha Baru

0
M– Pendiri Royal Golden Eagle (RGE), Sukanto Tanoto, ingin melihat banyak pengusaha Indonesia yang bisa bersaing di pasar internasional. Untuk melakukannya, melalui RGE, ia berusaha membantu banyak pengusaha baru di dalam negeri. Keinginan itu tidak lepas dari mimpi Sukanto Tanoto yang belum terwujud. Ia memang berharap Indonesia dikenal di dunia karena produk-produk yang dihasilkan. Pasalnya, negara lain sudah seperti itu. Indonesia juga bisa karena punya potensi besar.

“Saya ingin ada produk Indonesia yang dibanggakan di dunia. Kalau orang bicara Jepang pasti ingat Toyota, bicara Korea Selatan ingat Samsung. Indonesia juga harus punya yang seperti itu,” kata Sukanto Tanoto. Untuk mewujudkannya tentu tidak mudah. Butuh kerja keras dan ketekunan. Namun, semua itu bisa diawali dari peningkatan jumlah pengusaha di dalam negeri. Saat ini, jumlah pengusaha di Indonesia masih terbilang minim. Ini bahkan disadari oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Ia melihat persentase entrepreneur lokal dibanding penduduk masih jauh di bawah standar negara maju.

“Hampir di setiap negara maju, standarnya itu memiliki (penduduk) entrepreneur di atas 14 persen. Sementara di kita, angkanya masih 3,1 persen. Artinya perlu percepatan,” ujarnya di Kompas.com pada April 2018. Padahal, persentase jumlah pengusaha dibanding penduduk sangat berpengaruh terhadap kemajuan bangsa. Semakin tinggi tingkat persentase keberadaan pebisnis di satu negara, maka dipastikan negara itu bertambah maju. Begitu pula sebaliknya.

Jumlah pengusaha yang banyak pada akhirnya juga memperbesar peluang bagi pebisnis lokal untuk bersaing di pentas internasional. Inilah yang akhirnya menginspirasi Sukanto Tanoto untuk mendorong kehadiran para pengusaha baru. Melalui RGE, dia melakukan sejumlah langkah untuk menyemai kehadiran pebisnis di sekitar area operasional perusahaan.

Hal itu dilakukan oleh unit-unit bisnis dari RGE di dalam negeri mulai dari Asian Agri, Apical, hingga Grup APRIL. Apical misalnya. Unit bisnis RGE yang beroperasi dalam distribusi dan pengolahan produk kelapa sawit ini mendorong kehadiran bisnis-bisnis baru untuk masyarakat. Mereka membuka kesempatan bekerja sama bagi penduduk di sekitar area perkebunan untuk membangun usaha anyar.

Langkah serupa juga dilakukan oleh Asian Agri, unit bisnis dari RGE lain yang juga beroperasi di industri kelapa sawit. Mereka melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) untuk pengembangan ekonomi dengan program peningkatan pendapatan masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja baru.

Kegiatan tersebut dilakukan dalam beragam cara. Salah satunya dengan pengguliran Program Dana Peternakan. Asian Agri mulai menjalankannya pada 2008. Mulanya aktivitas ini ditujukan kepada para petani kelapa sawit yang akan menjalani masa peremajaan. Ternak diharapkan bisa menjadi sumber pendapatan pengganti sembari menunggu kebun kelapa sawit siap dipanen.

Namun, setelah digulirkan, ternyata manfaat besar dirasakan. Penghidupan petani tertolong. Mereka akhirnya menjadi peternak yang sukses. Ini yang mendasari Asian Agri memperluas program tersebut ke khalayak umum. Dalam Program Dana Peternakan, Asian Agri akan memberi bantuan berupa dana sebagai model. Nanti peternak yang menerimanya ditentukan berdasarkan syarat dan kesiapan peternak termasuk di dalamnya kondisi hewan ternak maupun kemampuan manajerial.

Sesudah penerima dana menerima dana, cicilan harus dilakukan ke KUD maksimal 24 bulan. Dana yang terkumpul ini akan digulirkan kembali kepada peternak. Akibatnya semakin banyak peternak lain yang bisa mendapatkan dukungan serupa.
Program ini bisa memberikan keuntungan rutin bagi peternak. Puncaknya terjadi pada Idul Adha yang memicu kenaikan permintaan ternak. Sampai sekarang, program dari perusahaan Sukanto Tanoto ini dapat memberi manfaat bagi 205 para peternak yang tergabung. Mereka semua mengelola sapi sebanyak 596 ekor.

MENJALIN KEMITRAAN DENGAN WARGA

MENJALIN KEMITRAAN DENGAN WARGA

Lain lagi dengan kiprah Grup APRIL. Unit bisnis dari Royal Golden Eagle yang berkiprah dalam sektor pulp dan kertas ini rajin mendukung pengembangan pengusaha lokal. Caranya cukup unik, yakni dengan menjalin kemitraan dengan para pebisnis di sekitar area operasionalnya.

APRIL membuka kesempatan bagi para pengusaha lokal untuk menjadi mitra. Dengan menjadi partner, mereka mempunyai peluang untuk menjadi penyedia jasa atau produk yang berkaitan dengan operasional perusahaan. Bukan hanya itu, perusahaan Sukanto Tanoto ini juga memberi dukungan kepada para mitra binaan tersebut. Mereka memberi pelatihan dan pendampingan bisnis. Selain itu, APRIL juga menjadi penjamin bagi pebisnis yang ingin mendapat pinjaman modal dari bank. Jaminan berasal dari kontrak kerja sama antara APRIL dengan pengusaha tersebut.

Banyak pihak yang merasakan manfaatkan program yang bertujuan melahirkan pengusaha baru tersebut. Salah satunya warga asal Pangkalan Kerinci, M. Rafi. Pada 2014, Rafi melihat ada peluang usaha saat APRIL hendak mengoperasikan Paper Machine 3. Ia segera keluar dari pekerjaannya di PT Riau Andalan Pulp & Paper (unit operasional APRIL, Red.) dan banting setir untuk menekuni bisnis.

Namun, mengelola usaha tidaklah mudah. Banyak kesulitan yang dihadapi. Ini memaksa Rafi kehilangan dana yang ia tabung selama 15 tahun sebagai talangan untuk menutupi kekurangan finansial perusahaannya. Bahkan, setelah itu, ia mesti menghentikan operasional usahanya selama empat bulan.

Kebangkitan akhirnya mulai dirasakan Rafi sejak mengikuti Program Pengembangan Masyarakat dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) RAPP. Selain menjadi penyedia jasa, ia mendapat bimbingan dan pelatihan dalam mengelola perusahaan. Salah satunya terkait cara pengembalian utang ke bank yang diambilnya sebagai modal.

Kini, Rafi merasakan buah manisnya. Perusahaannya yang bernama PT Riau Dua Berlian ini mampu beroperasi dengan baik. Mereka berhasil menyediakan karyawan terampil yang diperlukan oleh APRIL untuk produksi. “Awalnya, perusahaan saya memasok empat karyawan ke RAPP. Sekarang, saya punya 90 orang yang bekerja untuk mereka,” ujar Rafi. Operasional yang baik pada akhirnya berujung kepada kinerja perusahaan. PT Riau Duta Berlian telah mampu menghasilkan omset sebesar Rp 2,4 miliar, dengan laba hingga Rp 480 juta per tahun.

Namun, penghasilan yang besar bukan menjadi kepuasan utama Rafi dalam berbisnis. Ia melihat kegembiraannya yang sejati justru muncul ketika sadar dirinya mampu memberi lapangan kerja bagi pihak lain. Penduduk di sekitar area perusahaannya kini bisa bekerja di perusahaannya. Mereka akhirnya memperoleh penghasilan yang layak untuk menunjang kehidupannya masing-masing.

“Kebanyakan dari mereka adalah penduduk setempat yang baru saja lulus dari sekolah dan datang kepada saya untuk mencari kerja. Hal ini tentunya membuat saya merasa senang bisa membantu mereka,” kata Rafi. Rafi bukan satu-satunya pengusaha yang dilahirkan dan dibesarkan oleh APRIL. Masih banyak pebisnis lain yang merasakan manfaat serupa. Hingga kini, perusahaan Sukanto Tanoto tersebut tercatat sudah membantu 189 pengusaha secara langsung.

Berkat itu, semakin banyak lapangan kerja yang tercipta. Program Pengembangan Masyarakat dan Usaha Kecil dan Menengah tercatat mampu menciptakan 1.600 lapangan pekerjaan. Hal ini dirasa penting bagi realisasi mimpi Sukanto Tanoto untuk melahirkan pengusaha lokal yang bersaing di level global. Sebab, semakin banyak pebisnis yang ada di negeri kita. Bisa saja di antara mereka nanti ada yang mampu membawa perusahaannya berkiprah di pasar internasional seperti Sukanto Tanoto.

Share.

Tentang Penulis

Blogger Junkie! Trance addict with Scorpion sign yang suka melepaskan imajinasi dengan tulisan. Jakarta, semoga kita selalu bersahabat. Read, Sleep, WRITE, Repeat! Selamat membaca, jangan bosan untuk berkunjung kembali, LOVE!

Leave A Reply